ARTIKEL ISLAM: 5 HAKIKAT HIDUP

Minggu, 22 Juni 2014

5 HAKIKAT HIDUP


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


A.   Hakikat : Mengapa kita ada di dunia ini ?



Saudara-saudara yang dirahmati Allah,


Ketahuilah ! sesungguhnya kita tidak dibiarkan begitu saja di dunia ini, tanpa tujuan maupun arahan. Kita harus tahu mengapa kita ada di dunia ini. Oleh karena itu, ada 5 hakikat hidup yang benar-benar harus kita sadari.



5 hakikat hidup



1.    Tujuan Allah menciptakan manusia untuk merahmati

Inilah sebagai dasar/fitrah manusia. Allah menciptakan manusia butuh dan bergantung kepada rahmat Allah. Sebagaimana seluruh makhluk lain dirahmati Allah untuk menunjukkan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, Allah jadikan manusia lemah. Lebih lemah dari cobaan dan godaan di dunia. Namun rahmat Allah terutama petunjuk-Nya, jauh lebih kuat dari semua cobaan dan godaan itu. Sehingga manusia akan selamat jika menerimanya. Allah berfirman :


“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” [Hud (11) : 118-119]


Kenyataannya banyak manusia sombong mengakui fitrahnya yang lemah dan butuh kepada Allah. Akibatnya mereka selalu berselisih hingga berperang. Baik dalam urusan agama maupun dunia. Padahal semuanya merasa benar. Faktanya mereka mengikuti hawa nafsunya yang telah ditipu oleh syaitan. Kecuali orang yang mengakui fitrahnya dan mengikuti petunjuk Allah. Allah berfirman :


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [An-Nur (24) : 21]


Oleh karena itu, sadarilah fitrah kita yang lemah dan butuh kepada Allah. Serta mohonlah petunjuk dan ampunan-Nya agar kita beruntung.



2. Tujuan manusia diciptakan Allah untuk mengabdi (ibadah)

Inilah tujuan manusia. Allah menciptakan jin dan manusia, dua makhluk yang diberi kehendak untuk memilih beriman atau kafir, untuk mengabdi dan membesarkan Allah. Sebagaimana makhluk lainnya yang taat mengabdi kepada tuhan yang telah menciptakan dan memberikan rahmat kepada mereka. Allah berfirman :


“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [Adz-Dzariyat (51) : 56]


Oleh karena itu, hendaknya hidup kita semata-mata untuk menghambakan diri kepada Allah. Bukan untuk beribadah kepada selain-Nya. Bukan pula untuk tujuan-tujuan duniawi yang sempit. Inilah perintah pertama kepada manusia di setiap masa. Ini pula perintah pertama dalam Al-Quran. Allah berfirman :


Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. [Al-Baqarah (2) : 21]


Ayat ini menerangkan pula dasar dan tujuan ibadah. Dasar Allah disembah karena Dia yang menciptakan manusia dan para leluhur kelahirannya. Sedangkan tujuan manusia menghambakan diri agar menjadi orang bertakwa, yaitu orang yang taat kepada Allah dan petunjuk-Nya sehingga ia selamat.



3.  Kedudukan manusia di bumi sebagai khalifah

Inilah kedudukan manusia. Allah menjadikan manusia berkuasa berbuat di bumi sesuai kehendaknya untuk dilihat perbuatannya. Serta untuk menunjukkan kebesaran dan kemurahan Allah, dimana makhluk yang fitrahnya merusak dan bodoh justru tunduk kepada tuhan yang belum pernah dilihatnya serta berbuat kebaikan karena-Nya. Allah berfirman :


Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". [Al-Baqarah (2) : 30]


Inilah yang membuat malaikat yang suci dan dekat dengan Allah diperintahkan sujud kepada manusia (adam). Namun manusia diberi pula fitrah tauhid (mengesakan Allah) serta dikaruniai akal oleh Allah untuk memahami petunjuk-Nya. Maka barang siapa yang ‘menggunakan’ akal justru untuk menentang Allah serta menolak fitrah tauhidnya maka dia telah merugikan dirinya sendiri. Allah berfirman :


Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. [Fathir (35) : 39]


Inilah yang membuat manusia lebih buruk dari hewan ternak yang tidak diberi akal oleh Allah. Maka kita hendak menjadi apa ? Apakah yang dimuliakan melebihi malaikat atau yang dihinakan melebihi hewan ternak ?

4.  Kedudukan dunia dan seisinya sebagai ujian

Inilah ujian bagi manusia. Sesungguhnnya semua yang datang kepada manusia di dunia sebagai ujian dari Allah. Mulai dari dirinya, hartanya, keluarganya, manusia lain, seluruh alam serta umur, nasib, petunjuk dan kesesatan adalah ujian untuk dilihat apa yang diperbuat manusia dengan pemberian itu. Allah berfirman :


Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. [Al-Kahfi (18) : 7]


Allah menguji manusia berbeda-beda dengan ujian yang berbeda-beda pula, baik kebaikan ataupun keburukan, kelebihan maupun kekurangan. Apakah manusia akan menghadapi ujian tersebut sesuai kehendak Pemberi ujian (Allah) atau ia termasuk orang-orang yang gagal. Allah berfirman :


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. [Al-Anbiya (21) : 35]


Oleh karena itu, kebaikan bukan sesuatu yang kita rasa baik kecuali syukur dan sabar. Demikian pula keburukan bukan sesuatu yang kita rasa buruk melainkan kufur dan putus asa. Karena sesungguhnya segala hal di dunia ini bukan sekedar perkara lahir dan ilmiah (sebab akibat) saja. Namun perkara batin dan ilahiah (ketuhanan) justru menjadi dasar dan tujuannya.



5. Tujuan dan kedudukan akhir manusia kembali kepada Allah dan akhirat

Inilah akhir kembalinya manusia, dikembalikan kepada Pemilik dan kampung halamannya. Agar dibalas semua perbuatannya di dunia dan ditegakkan keadilan sebenar-benarnya. Allah berfirman :


Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shaleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka. [Yunus (10) : 4]


Barang siapa yang sadar dan mengejar akhirat yang kekal, niscaya ia akan kembali dengan pengembalian yang baik. Namun barang siapa yang tertipu oleh kehidupan dunia yang semu ini dan lalai terhadap akhirat maka ia akan kembali dengan pengembalian yang buruk. Inilah orang bodoh yang mengorbankan kehidupan yang kekal dan mulia hanya untuk dunia sedikit. Allah berfirman :


Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. [Al-Ankabut : 64]


Oleh karena itu, bukan di sini tempat kita sesungguhnya. Dunia ini hanya sebagai ujian untuk mengumpulkan bekal ke akhirat. Maka kejarlah dunia ini untuk akhirat, bukan mengejar dunia dan akhirat.



Catatan

Gabungan


Demikianlah kelima hakikat kehidupan kita di dunia, yang Allah terangkan melalui petunjuk-Nya yang mulia, Al-Qur’an. Dalam Al-Quran pula Allah tegaskan kelima hakikat ini secara bersamaan, yaitu dalam lima ayat terakhir surat Al-An’am. Allah berfirman :


Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik". [Al-An’am (6) : 161]


Inilah dasar manusia, membutuhkan rahmat dan petunjuk Allah untuk menjalani kehidupannnya. Kemudian Allah berfirman :


Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. [Al-An’am (6) : 162-164]


Inilah tujuan manusia, menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengabdi kepada Allah dengan penuh ketundukan dan kemurnian. Dilanjutkan oleh firman-Nya :


Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan". [Al-An’am (6) : 164]


Inilah akhir dari manusia, dikembalikan kepada Allah untuk dibalas sesuai amalnya. Serta untuk ditegakkan keadilan dan kebenaran dan dimenangkan orang-orang yang mengikuti petunjuk kebenaran dan menyesal orang-orang yang berpaling darinya. Selanjutnya Allah berfirman :


Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi [Al-An’am (6) : 165]


Inilah kedudukan manusia, sebagai makhluk yang diberi kuasa berbuat sesuai kehendaknya untuk dilihat perbuatannya. Kemudian firman-Nya :


dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. [Al-An’am (6) : 165]


Inilah ujian bagi manusia, diuji satu sama lain dengan perbedaan derajat yang Allah berikan. Tujuannya untuk dilihat bagaimana ia menghadapi ujian sesuai derajatnya, bukan dilihat derajat yang diberikan. Diakhiri dengan firman-Nya :


Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-An’am (6) : 165]


Inilah akhir manusia, dikembalikan kepada Tuhannya. Barang siapa ingkar di dunia ini maka Allah amat cepat siksaan-Nya. Sedangkan barang siapa yang memulai hidupnya dengan rahmat Allah (petunjuk), menjalaninya dengan rahmat (pertolongan) maka akhirnya akan mendapat rahmat pula (pahala dan ampunan).



Hakikat terbesar

Inilah hakikat terbesar hidup manusia, untuk dirahmati, untuk itu manusia diciptakan Allah. Hakikat ini kunci pembuka hakikat-hakikat lainnya. Karena dengannya manusia mengetahui dan menjalani kehidupannya dengan benar serta berakhir dengan benar pula.


Hakikat terbesar ini justru berasal dari tujuan Allah, bukan dari tujuan manusia (ibadah). Karena ibadah semata-mata untuk manusia sendiri dan Allah tidak membutuhkannya. Allah berkehendak menunjukkan kebesaran dan kemurahan-Nya. Maka Allah jadikan dasar penciptaan (fitrah) manusia bergantung kepada-Nya.


Oleh karena itu, barangsiapa yang melupakan Penciptanya serta tujuan-Nya maka ia akan lupa pula siapa dirinya. Allah berfirman :


Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. [Al-Hasyr (59) : 19]


Pada ayat berikutnya Allah membuat perbandingan akibat orang yang ingat Penciptanya dengan yang lupa. Allah berfirman :


Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. [Al-Hasyr (59) : 20]


Kemudian ayat berikutnya Allah menegaskan sebab manusia mengenal Tuhan dan dirinya, yaitu tunduk menerima rahmat dan petunjuk-Nya yang agung, yaitu Al-Qur’an. Allah tegaskan dengan perumpamaan yang dahsyat dalam firman-Nya :


Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. [Al-Hasyr (59) : 21]


B.   Kesimpulan hakikat

Hakikat kehidupan adalah ujian keimanan

Kesimpulan dari lima hakikat diatas bahwa kehidupan ini adalah ujian keimanan. Manusia diuji dalam hidupnya untuk menjalankan dua tujuan penciptaannnya, yaitu dirahmati (mengikuti petunjuk) dan beribadah (menghambakan diri) kepada Allah. Keduanya merupakan inti keimanan serta bukti nyata pengakuan iman seseorang. Allah berfirman :


Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. [Al-Ankabut (29) : 2-3]


Adapun ujian yang dimaksud terkait kedudukan manusia dan dunia. Sebagai khalifah, manusia akan dilihat kehendaknya terhadap ujian dunia. Apakah ia akan mengikuti petunjuk Allah dan mencari ridha-Nya melalui ujian tersebut atau ia ingkar. Allah berfirman :


Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". [Al-Kahfi (18) : 29]


Inilah hakikat kehidupan kita, sebagai ujian dari Allah. Sesungguhnya segala urusan berasal dari Allah. Kemudian akan kembali kepada Allah. Dia-lah pemilik segala urusan. Kemudian Dia pula yang akan memberi balasan. Inilah tujuan dan kedudukan akhir manusia.Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa segala urusan kita hakikatnya kepada Allah, bukan kepada orang lain atau diri sendiri.


Rincian tugas manusia

Lima hakikat diatas menjelaskan pula rincian dasar-dasar tugas manusia dalam menjalani ujian keimanan ini, antara lain :


Hak dan kewajiban

Pertama yaitu hak dan kewajiban antara manusia dan Penciptanya. Hak dan kewaiban ini berasal dari dua tujuan penciptaan manusia. Dari tujuan Allah merahmati manusia, Allah menetapkan bagi diri-Nya sendiri kewajiban untuk merahmati. Allah berfirman :


Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas diri-Nya rahmat. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya (menolak rahmat), mereka itu tidak beriman. [Al-An’am (6) : 12]


Sedangkan tujuan manusia menyembah Allah menjadi kewajiban utama bagi manusia. Allah berfirman :


Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. [Al-Bayyinah (98) : 5]


Setiap kewajiban merupakan hak bagi pihak lain. Oleh karena itu, menjadi hak Allah untuk disembah oleh manusia dan hak manusia dirahmati oleh Allah. Sebagaimana sabda rasululllah :


Dari Mu'az bin Jabal r.a., katanya: "Saya ada di belakang Nabi s.a.w. ketika menaiki seekor keledai, lalu beliau bertanya: "Hai Mu'az, tahukah engkau, apakah hak Allah atas sekalian hamba-Nya dan apakah hak hamba-hamba itu atas Allah?" Saya menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya hak Allah atas semua hamba-hamba-Nya yaitu mereka itu menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan diri-Nya, sedang haknya hamba-hamba atas Allah ialah Allah tidak akan menyiksa siapa saja yang tidak menyekutukan sesuatu dengan diri-Nya." Saya lalu berkata: "Bukankah baik sekali jika berita gembira ini saya beritahukan kepada seluruh manusia?" Beliau bersabda: "Janganlah engkau beritahukan kepada mereka sebab mereka nantinya akan menyerah bulat-bulat (tidak beramal)." [HR Bukhari dan Muslim]



Amanat dan wewenang

Kedua tentang amanat dan wewenang bagi manusia. Yaitu berasal dari kedudukan manusia dan dunia. Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berbuat sesuai kehendaknya. Sebagaimana firman Allah :


Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Fushshilat (41) : 40]


Sedangkan sebagai ujian, Allah menjadikan perkara dunia ini sebagai amanat yang harus ditunaikan. Allah berfirman :


Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh, [Al-Ahzab (33) : 72]


Oleh karena itu, kehendak yang merupakan wewenang dari Allah tidak bisa lepas dari amanat (tanggung jawab) yang dibebankan oleh Allah. Karena amanat dan wewenang itulah yang akan diminta pertanggung-jawabannya. Sebagaimana Allah berfirman :


Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, [Al-Muddatsir (74) : 38]



Nilai dan balasan



Terakhir adalah nilai dan balasan dari tugas yang dibebankan kepada manusia. Manusia aka dinilai perbuatannya oleh Allah. Apakah ia termasuk orang-orang yang dinilai sebagai orang beriman dan berbuat kebaikan atau termasuk orang kafir dan mendustakan kebenaran dari Allah. Kemudian ia akan dibalas sesuai nilai amalannya. Yaitu masuk ke dalam syurga atau malah diadzab di neraka. Allah berfirman :


Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal shaleh adalah di dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka bagi mereka adzab yang menghinakan. [Al-Hajj (22) : 56-57]



Visi, misi dan tujuan hidup



Lima hakikat hidup diatas menjadi dasar utama kehidupan manusia. Barang siapa yang menjadikannya sebagai dasar maka hidupnya sesuai dengan tujuan yang Allah gariskan. Dua tujuan penciptaan adalah sebagai visi kehidupan. Adapun dua kedudukan sebagai misinya. Sedangkan satu tujuan dan kedudukan akhir adalah tujuan utamanya.


Oleh karena itu, inilah visi, misi dan tujuan kehidupan manusia :


VISI


- Menjadi manusia yang dirahmati Allah (bergantung kepada Allah); mendapat petunjuk, pertolongan, rahmat dan ampunan Allah.


- Menjadi sebenar-benarnya hamba Allah; hidup hanya untuk menghambakan diri kepada Allah.


MISI


-  Meletakkan kehendak sesuai kehendak dan keridhaan Pemberi kehendak (Allah).


- Menghadapi ujian di dunia sesuai kehendak dan keridhaan Pemberi ujian (Allah).


TUJUAN


-   Kembali kepada Allah dan akhirat (syurga)


C.   Konsekuensi : Apa yang harus kita lakukan?



Saudaraku sekalian ! setelah kita mengetahui tentang hakikat hidup ini, kita harus tahu pula apa yang seharusnya kita lakukan. Kewajiban yang harus kita jalankan di dunia ini tidak lain adalah konsekuensi kelima hakikat kehidupan.


2 kewajiban utama



Ada dua kewajiban utama yang harus dilakukan manusia. Dari tujuan hidup untuk dirahmati dan ibadah kepada Allah, maka wajib bagi kita beriman kepada Allah, yaitu bergantung dan ibadah hanya kepada Allah. Sedangkan dari kedudukan manusia sebagai khalifah dan dunia sebagai ujian maka wajib bagi kita bertakwa kepada Allah, yaitu taat kepada kehendak dan keridhaan Allah.


Itulah dua kewajiban utama manusia yaitu beriman dan bertakwa. Sebagaimana Allah berfirman :


Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar. [Ali Imran (3) : 179]


Pada ayat diatas, perintah beriman kepada Allah bermaksud kepada menyembah Allah. Sedangkan beriman kepada rasul-Nya bermaksud untuk dirahmati Allah berupa petunjuk. Seperti dalam ayat yang lain pula Allah berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, [Al-Hadid (57) : 28]


Yang dimaksud rahmat dua bagian adalah petunjuk dan ampunan Allah. Itulah balasan bagi orang yang beriman. Sehingga tidak ada kekhawatiran bagi mereka. Karena setiap orang yang beriman dan bertakwa adalah wali Allah. Dan Allah selalu menolong wali-Nya. Allah berfirman :


Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. [Yunus (10) : 62-64]


Bahkan bila yang beriman dan bertakwa adalah penduduk suatu negeri maka Allah akan menurunkan keberkahan (rahmat yang banyak) kepada negeri tersebut. Demikian pula sebaliknya sebagaimana firman Allah :


Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [Al-A’raf (7) : 96]


Itulah dua kewajiban utama bagi manusia. Oleh karenanya, ada dua hari raya dalam agama ini. Idul Adha lebih untuk keimanan dan Idul Fitri lebih kepada ketakwaan.



1.    Iman

Yang dimaksud beriman adalah meyakini kebenaran dari Allah dan tunduk menerimanya kemudian membenarkannya dengan amalan lahir sebagai bukti dan konsekuensinya. Inilah yang Allah perintahkan seperti firman-Nya :


Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [An-Nisa (4) : 170]


Oleh karena itu, hendaklah kita menjawab seruan iman ini. Karena sesungguhnya iman itu untuk diri kita sendiri. Yaitu kita mendapat petunjuk dan ampunan dari Allah. Sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang beriman terdahulu dalam firman Allah :


Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. [Ali Imran (3) : 193]


Inti dari keimanan adalah dua tujuan penciptaan manusia yaitu dirahmati Allah dan berserah diri kepada-Nya. Itulah tauhid, bergantung dan ibadah hanya kepada Allah. Inilah yang menjadi inti agama Islam dan inti dari Al-Quran. Pada surat Al-Fatihah ayat lima yang merupakan inti Al-Quran disebutkan :


Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan [Al-Fatihah (1) : 5]


Untuk tujuan tauhid ini Allah menurunkan petunjuk, mengutus rasul dan mensyariatkan agama ini. Agar manusia dirahmati apabila berserah diri kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya :


Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Katakanlah: "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: "Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)". [Al-Anbiya (21) : 107-108]



2.  Takwa

Makna iman diatas bersifat umum, dimana mencakup takwa dan amal shaleh. Takwa adalah jembatan antara iman dan amal shaleh. Keyakinan (iman) amal menghasilkan perbuatan (amal) jika ada kehendak mengikuti keyakinan itu (takwa). Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk selalu bertakwa sekuat tenaga. Sebagaimana firman Allah :


Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah [At-Taghabun (64) : 16]


Inti takwa berasal dari kedudukan manusia sebagai khalifah dan dunia sebagai ujian. Agar kita berhati-hati dalam menjalani ujian dunia ini. Sebagaimana sabda rasulullah :


Dari Abu Said al-Khudri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sabdanya : ”Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau (menggiurkan) dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian penguasa di atasnya lalu Dia memperhatikan apa yang kalian perbuat. Karenanya takutlah kalian kepada (fitnah) dunia dan takutlah kalian dari (fitnah) wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama (yang menghancurkan) Bani Israil adalah dalam wanita.” [HR. Muslim]


Cara bertakwa adalah menjalankan ujian dunia dengan rahmat Allah (petunjuk, dll) dalam rangka ibadah kepada Allah. Dengan kata lain, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu takwa disebut jembatan antara iman dan amal shaleh.


Maka dari itu, perintah takwa adalah perintah dan wasiyat paling agung khusus hanya bagi orang-orang yang beriman. Serta menjadi syarat syah sebuah khutbah dan nasehat kepada orang yang akan bepergian. Karena takwa adalah sebaik-baik bekal, terutama bekal ke akhirat. Sebagaimana firman Allah :


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Hasyr (59) : 18]


Ayat ini memberikan faedah bahwa takwa hanya bagi orang beriman, takwa jembatan iman dan amal shaleh kemudian amal shaleh itu menjadi bekal untuk akhirat yang akan dinilai Allah dan diberi balasan.

-------------------------


5 AMALAN



Keimanan yang disertai ketakwaan akan menghasilkan amal shaleh. Ada lima jenis amal utama yang berasal dari lima hakikat hidup. Empat amalan dari empat hakikat hidup di dunia dan satu amalan dari hakikat akhir.



4 Amalan Dasar : Ilmu, Amal, Dakwah dan Sabar



Dari hakikat hidup untuk dirahmati, untuk ibadah, sebagai khalifah dan dunia sebagai ujian, kita diwajibkan untuk berilmu, beramal, berdakwah dan bersabar jika tidak ingin merugi. Sebagaimana firman Allah :


Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. [Al-Ashr (103) : 1-3]


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitabnya “Al-Ushul Ats-Tsalatsah” mengutip perkataan imam syafi’i yang berkata :


“Seandainya Allah hanya menurunkan surat ini saja sebagai hujjah buat makhluk-Nya, tanpa hujjah lain, sungguh telah cukup surat ini sebagai hujjah bagi mereka.”


Cukup sebagai hujjah karena keempat amalan dalam ayat tersebut telah mencakup semua konsekuensi keempat hakikat hidup manusia di dunia. Dimana ilmu sebagai dasar, amal sebagai pelaksanaan, dakwah sebagai pengaruh dan sabar sebagai daya tahan dalam menjalankan ujian keimanan dari Allah.


Syaikh menjelaskan pula bahwa keempat amal tersebut adalah memahami, mengamalkan dan menyebarkan kebenaran serta bersabar dalam menjalankan ketiganya. Keempat amalan ini disebut pula Azmil ‘umur (perkara yang diutamakan). Sebagaimana nasehat Lukman kepada anaknya dalam Al-Quran :


Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar". [Luqman (31) : 13]


(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (azmil ‘umur). [Luqman (31) : 16-17]


Dalam ayat tersebut, Lukman mengawali nasihatnya dengan ilmu dasar-dasar keimanan. Kemudian perintah untuk mendirikan shalat yang merupakan amal lahiriah yang paling utama. Dilanjutkan untuk berdakwah dan bersabar. Keempatnya nasehat tersebut merupakan empat amalan dasar.



­  1 Amalan Penyempurna : Taubat/ Inabah



Adapun satu amalan terakhir adalah kembali kepada Allah yang dikenal dengan taubat/ inabah. Yaitu konsekuensi dari hakikat akhir manusia kembali kepada Allah dan akhirat.


Taubat berfungsi sebagai penyempurna dari keempat amalan sebelumnya. Karena dengan taubat manusia akan kembali ke empat amalan tersebut apabila ia menyimpang. Sehingga manusia terhindar dari kerugian yang disebut dalam surat Al-Ashr diatas. Allah berfirman :


Adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan amal yang shaleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung. [Al-Qashash (28) : 67]


Demikian pula dalam ayat lain, Allah mengganti kesalahan orang yang bertaubat dengan kebajikan. Karena mereka sendiri telah mengganti kesalahan mereka dengan bertaubat. Sedangkan taubat mengembalikan mereka kepada empat amalan kebaikan. Allah berfirman :


kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. [Al-Furqan (25) : 70-71]


Demikian Allah menyebut orang yang mengikuti taubatnya dengan kebaikan sebagai orang yang sebenar-benarnya bertaubat. Bahkan syarat taubat sendiri ada empat yang berasal dari dari empat amalan kebaikan. Yaitu menyesal (tahu), berhenti/meninggalkan dosanya itu (amal), menegakkan/mengembalikan hak (dakwah) dan bertekad tidak mengulang dosanya kembali (sabar).



­ 5 Penghalang



Untuk mengamalkan lima amalan diatas dengan baik, ada lima penghalangnya yang harus kita hindari. Serta kita mohon perlindungan Allah darinya. Sebagaimana doa yang diucapkan rasulullah :


Rasulullah berdoa : “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”[HR Muslim]


Ilmu yang tidak bermanfaat menjauhkan kita dari pemahaman yang benar. Hati yang tidak khusyu’ menurunkan kualitas amal kita. Nafsu yang tidak pernah kenyang membuat kita hanya memikirkan diri sendiri dan melupakan orang lain, apalagi untuk berdakwah. Sedangkan doa yang tidak dikabulkan membuat sia-sia kesabaran kita yang sangat membutuhkan pertolongan Allah.


Adapun penghalang kita untuk bertaubat yaitu lingkungan yang buruk. Karena lingkungan yang buruk selalu membawa kita untuk ikut berbuat buruk dan menghalangi kita bertaubat dan berbuat baik. Oleh karena itu, jika kita benar-benar ingin kembali kepada Allah (taubat) maka kita harus pula kembali ke lingkungan orang-orang yang dekat dengan Allah.


Rasulullah pernah berkisah tentang taubatnya pembunuh 100 orang. Dia bertanya kepada seorang alim apakah taubatnya diterima. Maka orang alim itu menjawab sekaligus memberi petunjuk agar taubatnya sempurna. Alim itu berkata :


”Ya masih diterima. Dan siapakah yang akan menghalangi antara dirinya dengan taubat? Pergilah engkau ke tempat begini-begini karena di sana terdapat sekelompok manusia yang menyembah Allah Ta’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka. Dan janganlah kamu kembali ke tempatmu karena tempatmu adalah tempat yang buruk.” [HR Bukhari dan Muslim]


D.   Kesimpulan Konsekuensi



3 unsur keimanan



­          Unsur : pemahaman, kehendak dan perbuatan



Iman, takwa dan amal mengarah kepada tida unsur keimanan. Yaitu pemahaman, kehendak dan perbuatan. Ketiganya adalah adalah tiga unsur manusia. Sebagaimana contoh dari Rasulullah ketika menyampaikan cabang-cabang iman. Beliau bersabda :


Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang atau lebih dari enam puluh cabang, cabang yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaaha illallaah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (rintangan) dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang iman.[HR. Al-Bukhari dan Muslim]


Dimana “Laa ilaaha illallah” adalah pemahaman, menyingkirkan duri dari jalan adalah perbuatan dan malu adalah perasaan/kehendak. Oleh karena itu ilmu agama terbagi menjadi tiga bidang utama yaitu akidah untuk pemahaman, akhlah untuk kehendak dan fiqh untuk perbuatan.


Ada beberapa hal yang harus kita pahami tentang ketiga unsur diri kita ini, diantaranya :


Kedudukan : dasar, penggerak, hasil


Pemahaman merupakan dasar seseorang beramal. Kehendak sebagai penggeraknya. Sedangkan perbuata adalah hasil/buktinya.


Kewajiban : meyakini, menerima dan membenarkan


Agama mencakup ketiga unsur ini. Oleh karena itu kita diwajibkan pemahaman kita yakin kepada setiap kebenaran yang disampaikan, menerimanya dengan kehendak kita dan membenarkannya dengan perbuatan nyata. Allah berfirman :


Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. [An-Nisa (4) : 125]


Ayat ini menjelaskan orang yang beragama dengan benar adalah yang kehendaknya ikhlas kepada Allah, perbuatannya kebaikan dan pemahamannya seperti agama Ibrahim (tauhid).


Bukti : hati, lisan dan badan


Sedangkan bukti dari keimanan seseorang adalah membenarkan dalam hati, mengakui dengan lisan dan mengamalkan dengan seluruh anggota badan. Pembenaran dengan hati dapat terlihat dengan ucapan-ucapan yang selalu benar dan menyeru kepada kebenaran. Allah menjelaskan ketiga bukti ini dalam firman-Nya :


Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" [Fushshilat (41) : 33]


Inti : tauhid, ikhlas dan mutaba’ah


Agama ini diturunkan untuk meluruskan ketiga unsur manusia ini. oleh karena itu, inti agama ini agar manusia bertauhid, ikhlas dan mutaba’ah (sesuai contoh rasul). Yaitu lurus dalam pemahaman, kehendak dan perbuatan. Allah berfirman :


Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah (tauhid) dengan ikhlas dalam (menjalankan) agama dengan lurus (mutaba’ah), [Al-Bayyinah (98) : 5]


Lawannya : syirik, kafir, munafik


Adapun kebalikan dari tga unsur keimanan adalah tiga macam kekafiran yaitu syirik, kafir dan munafik. Syirik lebih diartikan kepada kekafiran akibat kebodohan dan pemahaman yang menyimpang. Kafir sendiri ditujukan bagi orang-orang yang jelas-jelas kehendaknya menolak kebenaran. Sedangkan munafik secara lahir mengaku beriman namun perbuatanya mendustakan.


Sumber dari tiga kekafiran ini adalah menolak petunjuk dari Allah. Padahal manusia Allah jadikan bersifat zhalim dan bodoh. Namun Allah berkehendak untuk memberi rahmat kepada manusia berupa petunjuk dan ampunan. Allah berfirman :


Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Ahzab (33) : 72-73]


Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa orang munafik sebagai orang yang zhalim karena perbuatannya mendustakan kebenaran sehingga merusak. Sedangkan orang-orang musyrik sebagai orang-orang bodoh. Mereka adalah orang-orang kafir karena menolak petunjuk Allah. Adapun orang-orang beriman kepada petunjuk, rahmat dan amanat Allah bagi mereka ampunan dari Allah.


Lebih lanjut, mari kita mengenal lebih rinci tiga unsur keimanan ini dalam dua inti keimanan; ibadah dan bergantung kepada Allah (na’budu dan nasta’in).



­          Na’budu : iman, takwa dan amal shaleh



Ibadah adalah semua hal yang Allah ridhai. Pemahaman yang Allah ridhai adalah iman. Kehendak yang Allah ridhai adalah takwa. Sedangkan perbuatan yang Allah ridhai yaitu amal shaleh. Allah berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Hasyr (59) : 18]


Dalam ayat lain Allah berfirman :


Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shaleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Al-Maidah (5) : 93]


Lawannya : kufur, maksiyat, fasad


Lawan iman, takwa dan amal shaleh (perbaikan) adalah kufur, maksiyat dan fasad (merusak). Sebagaimana firman Allah :


Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh sama dengan orang-orang yang berbuat fasad (kerusakan) di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat? [Shad (38) : 28]


Ciri munafik : dusta, ingkar dan khianat


Orang-orang munafik yang mendustakan kebenaran selalu menutupi kekufuran, maksiyat dan perbuatan fasadnya dengan ucapan dusta. Yaitu mereka berkata dusta yang berdeda dengan hatinya yang kufur. Mereka memperlihatkan kehendaknya yang maksiyat berupa ingkar kepada janji-janji yang telah mereka ikat. Serta mereka berbuat fasad karena mereka mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada mereka. Rasul bersabda :


Tanda orang-orang munafik ada tiga; Apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanat (dipercaya) ia berkhianat. [HR Bukhari dan Muslim]



­          Nasta’in : hidayah, taufiq dan inayah



Kita butuh pertolongan Allah agar pemahaman, kehendak dan perbuatan kita  berada pada jalan yang lurus. Oleh karena itu kita memohon kepada-Nya hidayah ilmu, taufik untuk selalu bertakwa dan inayah untuk beramal shaleh. Sebagaimana kita selalu minta dalam shalat kita :


Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fatihah (1) : 6-7]


Lawannya : sesat, fasik dan zhalim (kegelapan)


Sedangkan orang-orang yang menolak  rahmat dari Allah adalah orang yang sesat pemahamannya karena tidak dapat hidayah. Kehendak pun akan fasik dan memperturutkan hawa nafsu tanpa taufik dari Allah. Sedangkan perbuatannya adalah kezhaliman (kegelaman) karena tanpa petunjuk yang meneranginya. Allah berfirman :


Tetapi orang-orang yang zhalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. [Ar-Rum (30) : 29]


Kesimpulan


Kesimpulan dari ketiga unsur keimanan agar kita memiliki paham yang selamat, kehendak yang amanat sehingga menghasilkan amal yang manfaat. Alah berfirman :


Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. [Az-Zumar (39) : 10]


Tidak mungkin kita memiliki ketiga unsur keimanan ini kecuali kita beriman secara keseluruhan baik pemahaman, kehendak maupun perbuatan kita. Sebagaimana Allah berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. [Al-Baqarah (2) : 208]



Tingkatan iman



Tujuan dari ujian keimanan untuk mengetahui kadar keimanan manusia. Ada tiga tingkatan keimanan yaitu Islam kemudian Iman dan kemudian Ihsan. Allah berfirman :


Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shaleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan (kebajikan). [Al-Maidah (5) : 93]


Islam tingkatan orang yang tunduk dengan mengerjakan amalan shaleh yang diperintahkan. Kemudian Iman tingkatan orang yang meyakini kabar dan janji dari Allah kepada mereka. Sedangkan Ihsan tingkatan orang yang selalu berkehendak berbuat kebaikan karena Allah.


Oleh karena itu, masing-masing tingkatan iman memiliki rukun berupa amalan, keyakinan dan kehendak sebagaimana diterangkan dalam sabda Nabi :





"Islam yaitu :


1. engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan Muhammad itu utusan-Nya,


2. engkau mendirikan shalat,


3. engkau mengeluarkan zakat,


4. berpuasa pada bulan Ramadhan dan


5. mengerjakan haji ke Baitullah bila engkau mampu."


"(Iman) yaitu :


1.      engkau beriman kepada Allah,


2.      kepada malaikat-malaikat-Nya,


3.      kepada kitab-kitab-Nya,


4.      kepada rasul-rasul-Nya,


5.      kepada hari kiamat, dan


6.      engkau beriman kepada qadar yang baik dan buruk."


"(Ihsan) yaitu :


1.      engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."


[HR. Muslim]



1.    Islam



Artinya berserah diri (tunduk) kepada Allah. Islam adalah pembuka keimanan. Tanpa tunduk dan berserah diri kepada Allah tidak akan manusia sampai kepada iman dan ihsan. Allah berfirman :


Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah tunduk (Islam)", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [Al-Hujarat (49) : 14]


Telah menjadi ketetapan Allah untuk merahmati manusia. Oleh karenanya Allah jadikan manusia lema dan bodoh. Agar Allah memberikan ilmu-Nya (petunjuk) sehingga manusia mengetahui kebenaran. Namun jika manusia tidak tunduk kepada petunjuk Allah serta merasa akalnya lebih tinggi dari ilmu Allah maka tidak mungkin ia selamat.


Oleh karena itu rukun Islam terdiri dari amalan dasar yang mudah terukur. Yaitu ucapan syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Terukur maksudnya tata caranya sangat jelas sehingga mudah bagi kaum muslimin dan pemimpinnya melihat bukti keislaman seseorang. Sedangkan bagi pelakunya sendiri mudah untuk melakukannya.


Rukun Islam juga berasal dari lima amalan dasar. Syahadat dari ilmu, shalat dari amal, zakat dari dakwah (pengaruh), puasa dari sabar dan haji dari kembali kepada Allah. Sehingga rukun Islam melatih manusia menjalankan konsekuensi hakikat hidupnya.



2.    Iman



Beriman artinya meyakini perkara-perkara yang gaib dari Allah baik berita maupun janji-janji-Nya. Oleh karena itu, rukun iman terdiri hal-hal yang gaib. Tujuannya agar manusia tunduk kepada Allah serta bergantung kepada nikmat, petunjuk, ampunan, balasan dan pertolongan Allah. Karena tidak ada yang mampu memberi manfaat dan mudharat kepada seseorang kecuali dengan izin Allah. Allah berfirman:


Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [Al-Maidah (5) : 105]



3.    Ihsan



Adapun ihsan adalah selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Allah. Melebihi apa yang kita lakukan untuk diri kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Mengutamakan Allah diatas segalanya termasuk diri kita sendiri.


Rukun ihsan hanya satu yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya atau kita merasa dilihat-Nya. Maka hendaknya kita mengutamakan Allah dalam hati, ucapan dan perbuatan kita untuk mengharapkan keridhaan-Nya.


Dalil ihsan di hati, Allah berfirman :


Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. [At-Taubah (9) : 24]


Dalil ihsan dalam ucapan sebagaimana firman Allah :


Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin. [At-Taubah (9) : 62]


Sedangkan dalil tentang ihsan dalam perbuatan, firman Allah :


Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. [Al-Baqarah (2) : 207]


Maraji



1.      Al-Qur’an Al-Karim


2.      Muhammad bin Abdul Wahhab, Al-Ushul Ats-Tsalatsah


3.      An-Nawawi, Riyadhush Shalihin


4.      An-Nawawi, Hadits Arba’in



Tidak ada komentar:

Posting Komentar