ARTIKEL ISLAM

Minggu, 22 Juni 2014

ALAM KUBUR (BARZAKH)



Setelah Kita Dimasukkan ke Liang Kubur


Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’: 35).
 Ya, setiap dari kita insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu orang yang kita kasihi telah pergi (meninggal-ed) tapi seakan-akan kematian mereka tidak meninggalkan faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan mereka.
Saudariku, kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya perjalanan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)
Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di neraka.

Fitnah Kubur
Fitnah secara bahasa berarti ujian (ikhtibaar), sedangkan secara istilah fitnah kubur adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Hal ini benar berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqod hal 67, syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)
Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?
Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain. Perhatikanlah hal ini wahai saudariku!
Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.
Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.

Bentuk-Bentuk Siksa Kubur
Saudariku, telah disebutkan bahwa seorang yang kafir akan disiksa karena tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan. Akan tetapi, bukan berarti seorang mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin bisa saja diadzab disebabkan maksiat yang dilakukannya, kecuali bila Allah mengampuninya.
Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi berkata dalam kitabnya Aqidah Ath-Thahawiyah, “Kita mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, kita mengimani juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya berdasar kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat ridhwanallahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan Naar.”
Di antara bentuk-bentuk adzab kubur dan kriteria orang yang mengalaminya:
1.   Dipecahkan kepalanya dengan batu, kemudian Allah tumbuhkan lagi kepalanya, dipecahkan lagi demikian seterusnya. Ini adalah siksa bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya dan  juga siksa bagi orang yang meninggalkan sholat wajib.
2.   Dibelah ujung mulut hingga ke belakang kepala, demikian juga hidung dan kedua matanya. Merupakan siksa bagi orang yang pergi dari rumahnya di pagi hari lalu berdusta dan kedustaannya itu mencapai ufuk.
3.   Ada kaum lelaki dan perempuan telanjang berada dalam bangunan menyerupai tungku. Tiba-tiba datanglah api dari bawah mereka. Mereka adalah para pezina lelaki dan perempuan.
4.   Dijejali batu, ketika sedang berenang, mandi di sungai. Ini merupakan siksa bagi orang yang memakan riba.
5.   Kaum yang separuh jasadnya bagus dan separuhnya lagi jelek adalah kaum yang mencampurkan antara amal shalih dengan perbuatan jelek, namun Allah mengampuni perbuatan jelek mereka.
6.   Kaum yang memiliki kuku dari tembaga, yang mereka gunakan untuk mencakari wajah dan dada mereka. Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain (menggunjing) yakni membicarakan aib mereka.
Adzab dan nikmat kubur adalah benar adanya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan ‘ijma ahlu sunnah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal itu. Dan hal ini hanya diingkari oleh orang-orang Mulhid (atheis). Mereka mengatakan bahwa seandainya kita membongkar kuburan tersebut, maka akan kita dapati keadaannya seperti semula. Namun, dapat kita bantah dengan dua hal:
1.   Dengan dalil Al Qur’an dan Sunnah dan ‘ijma salaf yang menunjukkan tentang adzab kubur.
2.   Sesungguhnya keadaan akhirat tidak bisa disamakan dengan keadaan dunia, maka adzab atau nikmat kubur tidaklah sama dengan apa yang bisa ditangkap dengan indra di dunia. (Diringkas dari Syarah Lum’atul I’tiqod, hal 65-66)
Banyak hadits-hadits mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembuktian adzab dan nikmat kubur bagi mereka yang berhak mengecapnya. Demikian juga pertanyaan Munkar dan Nakir. Semua itu harus diyakini dan diimani keberadaannya. Dan kita tidak boleh mempertanyakan bagaimananya. Sebab akal memang tidak dapat memahami bentuk sesungguhnya. Karena memang tak pernah mereka alami di dunia ini.
Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam Barzakh. Barangsiapa yang mati, dan berhak mendapatkan adzab, ia akan menerima bagiannya. Baik ia dikubur maupun tidak. Meski dimangsa binatang buas, atau terbakar hangus hingga menjadi abu dan bertaburan dibawa angin; atau disalib dan tenggelam di dasar laut. Ruh dan jasadnya tetap akan mendapat siksa, sama seperti orang yang dikubur. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)

Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?
Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:
Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)
Demikian juga dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib tentang kisah orang kafir, “Kemudian dibukakan baginya pintu Naar sehingga ia dapat melihat tempat tinggalnya di sana hingga hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)
Kedua, untuk para pelaku maksiat yang ringan kemaksiatannya, maka adzab hanya berlangsung beberapa waktu kemudian berhenti. Mereka disiksa sebatas dosanya, kemudian diberi keringanan. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Saudariku, semoga Allah Melindungi kita dari adzab kubur dan memudahkan perjalanan setelahnya. Seringan apapun adzab kubur, tidak ada satupun dari kita yang sanggup menahan penderitaannya. Begitu banyak dosa telah kita kerjakan… maka jangan sia-siakan waktu lagi untuk bertaubat. Janganlah lagi menunda berbuat kebaikan. Amal perbuatan kita, kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya dan mendapatkan balasannya. Jika bukan kita sendiri yang beramal shalih demi keselamatan dunia dan akhirat kita, maka siapa lagi ???
Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?” Lalu ia berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai, bagaimanakah keadaan seperti ini?” Lalu beliau menangis. Wallahu Ta’ala a’lam.

Maraji’:
1.   Aqidah Ath-Thahawiyah, Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi (diambil dari Mutuunut Tauhidi wal ‘Aqiidati)
2.   Syarah Al Waajibaat al Mutahattimaat al Ma’rifah ‘alaa kulli Muslim wa Muslimah (edisi terjemah), Syaikh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al Khuraishi, Pustaka Imam Syafi’i
3.   Syarah Lum’atul I’tiqod, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin
4.   Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah (jilid 2. edisi Terjemah), Syaikh Abdul Akhir  Hammad al Ghunaimi, Penerbit At Tibyan 

Sumber: www.muslimah.or.id


HIDUP DI DUNIA PENUH MAKNA

HIDUP DI DUNIA PENUH MAKNA

By : NANIK DWI NURHAYATI BASID, MSI

 

Ketahuilah bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, oleh karena itu marilah kita pergunakan hidup ini agar lebih bermakna !

MARILAH KITA BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN DAN TAQWA

Firman Allah : ‘Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah’. ( QS 31 : 33).

Melalui ayat ini, Allah ingin membuka cakrawala kita tentang dunia, supaya kita tidak terpedaya. Sebaliknya, Allah juga memberitahukan kepada kita, kiat manjadikan hidup di dunia menjadi penuh makna.

Kiat manjadikan hidup di dunia menjadi Penuh Makna

Pertama, Allah memanggil semua manusia untuk bertakwa kepadaNya. Hal ini mengisyaratkan bahwa maqom (kedudukan spiritual) sebagai muttaqin, terbuka untuk siapa saja. Di sini juga kita menemukan tentang sejatinya sifat kasih Allah yang tidak membeda-bedakan. Semua manusia, semuanya dipanggil, tidak berdasarkan strata sosial apa pun.

Kedua, Allah memperingatkan agar manusia takut pada suatu hari yang tidak ada tolong menolong lagi. Di sini dipakai istilah ‘hari ketika seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya sedikitpun’. Kendati tidak disebutkan nama harinya atau waktunya, bahwa hari yang dimaksudkan adalah hari pengadilan di padang mahsyar, yakni ketika semua manusia dikumpulkan dan dihadapkan pada pengadilan Allah SWT. Pada hari itu, semua manusia menjadi egois, tidak sempat memikirkan orang lain, mereka sibuk memikirkan pertanggungjawabannya sendiri kepada Allah. Tidak ada lagi tolong menolong.

Hal ini bermakna, bahwa kita harus memanfaatkan semaksimal mungkin waktu hidup kita di dunia, karena di dunia inilah kesempatan satu-satunya yang kita miliki untuk saling menolong. Ketika di dunia inilah, seorang bapak wajib menolong anaknya dan seorang anak wajib pula menolong bapaknya. Tolong menolong yang dimaksudkan oleh Allah adalah : ‘ta’awanu ‘alal birri wat taqwa’ – tolong menolong dalam hal kebaikan dan takwa – ‘wa la ta’awanu ‘alal istmi wal ‘udwan’ – dan bukan tolong menolong dalam keburukan – itu yang harus kita kerjakan.

Ketiga, Allah memastikan bahwa janjiNya pasti benar. Artinya, Allah tidak akan mengingkari janjiNya. Itulah sebabnya, manusia diingatkan tentang pentingnya saling menolong selagi masih di dunia, karena ketika kehidupan dunia ini berakhir, akan diganti dengan kehidupan lain yang abadi, yaitu kehidupan akhirat. Hidup di dunia ini ada akhirnya, begitu janji Allah yang tidak akan diingkari oleh Allah. Kehidupan dunia akan berakhir. Dan begitu kehidupan dunia ini berakhir, maka dimulailah kehidupan akhirat. Ada kehidupan lain yang disebut akhirat. Itupun janji Allah, dan janji Allah pasti benar.

Keempat, karena janji Allah pasti benar, maka Dia mengingatkan, ‘janganlah sekali-kali kehidupan dunia ini memperdayakan kamu’. Allah mengingatkan supaya kita tidak tertipu oleh kehidupan dunia. Mengapa ? ‘Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan’. ( QS 11 : 15 ). Ini yang disebut istidraj, yaitu pemberian Allah yang tidak disertai dengan kebaikan, untuk membuat manusia terpesona hingga lupa kepada si pemberi, yaitu Allah. Ini pula yang disebut sebagai tipudaya kehidupan dunia, sehingga manusia lupa bahwa setelah hidup di dunia ada akhirat. Kalau ketika di dunia kita lalai bertolong-menolong, maka nanti di akhirat, sudah tidak ada waktu lagi untuk saling menolong. Sehingga Allah memberitahu kita : ‘Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan’. ( QS 11 : 16 ).

Kelima, Allah mengingatkan supaya kita tidak terperdaya oleh penipu, yaitu syaitan, dalam memahami Allah. Yang dimaksudkan dengan memahami Allah di sini adalah memahami hakikat asmaNya, hakikat sifatNya, hakikat af’alNya dan hakikat zatNya, sehingga dengan demikian kita akan memahami hakikat kehendak Allah yang harus kita patuhi.

Dengan ini pula kita diingatkan bahwa kepatuhan kepada Allah hanya mungkin dapat terlaksana dengan baik, manakala kita mampu memahami hakikat kehendakNya, yang berarti pula memahami hakikat perintah dan laranganNya. Kita diingatkan untuk menjadi lebih arif, tidak terjebak oleh pemahaman tekstual dari kitab suci maupun hadist. Kita harus Menemukan makna hakikat dari teks al Quran dan hadist supaya kita berhasil menemukan roh atau jiwa dari perintah dan larangan Allah maupun RasulNya. Supaya kita terhindar dari virus penyakit yang ditebarkan oleh iblis dan keturunannya yang gagal memahami hakikat perintah Allah untuk bersujud pada Adam.

Iblis menolak, karena ia hanya melihat Adam secara tekstual, Adam secara jasad yang diciptakan oleh Allah dari tanah. Iblis tidak mampu melihat hakikat Adam, yakni roh yang ditiupkan Allah. Roh Adam yang berasal dari Allah, merupakan bagian dari Allah di situlah letak kemuliaan Adam dan anak keturunannya, yakni umat manusia, termasuk kita sekarang.

Karena Iblis terhijab, sehingga gagal memahami hakikat Adam, maka dia diusir dari sorga oleh Allah. Inilah pelajaran yang sangat berharga, agar kita mampu mencerap hakikat dari perintah dan larangan Allah sehingga kita mampu menghidupkan jiwa ibadah yang benar dalam hidup kita.

Wallohua’lam.


TELAGA RASULULLAH SAW


TELAGA RASULULLAH SAW


            Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah swt, Rabb semesta alam. Sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga, shohabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du

           Pada hari kiamat nanti, di Padang Mahsyar akan didatangkan telaga milik Nabi  dan Ash-Shirot dipasang di atas punggung jahannam. Ash-Shirot adalah jembatan yang terbentang diantara surga dan neraka, manusia melewatinya sesuai dengan kadar amalnya. Diantara mereka ada yang lewat seperti (kecepatan) kedipan mata, dan diantara mereka ada yang lewat seperti kilat, dan diantara mereka ada yang lewat seperti angin, dan diantara mereka ada yang lewat seperti kuda pacuan, dan diantara mereka ada yang lewat seperti unta tunggangan, dan diantara mereka ada yang lewat dengan berlari, dan ada yang lewat dengan berjalan dan bahkan ada yang merangkak, dan mereka ada yang dikait lalu dilemparkan ke dalam Jahannam, karena di atas Ash-Shirot tersebut terdapat kait-kait yang akan mengait manusia dengan sebab amal-amal mereka. Jika mereka telah melewati Ash-Shirot, mereka berhenti di atas Al-Qonthoroh (jembatan kecil) yang berada diantara surga dan neraka. Maka sebagiannya akan di qishos oleh sebagian yang lain. Setelah hati mereka dibersihkan dan dijernihkan, mereka diizinkan untuk masuk ke dalam surga, yang pertama kali meminta agar pintu surga dibuka adalah Nabi kita Muhammad, dan umat pertama yang akan masuk surga adalah umat Muhammad.


Al Haudh (Telaga Rasulullah )

Secara bahasa Al Haudh (telaga) berarti tempat berkumpulnya air. Adapun dalam syari’at Islam yang dimaksud dengan Al Haudh (telaga) adalah tempat berkumpulnya air yang mengalir dari sungai Al Kautsar yang dimiliki oleh Nabi  di Padang Mahsyar.

            Samahatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin  berkata: Pembicaraan tentang telaga Nabi  mencakup beberapa sisi yaitu:

Pertama: Telaga Nabi  telah ada sekarang.


Karena Nabi  telah menetapkan hal tersebut, dimana pada suatu hari didalam khutbahnya di hadapan para shohabatnya beliau saw bersabda:

وَإِنِّيْ وَاللهِ لأَنْظُرُ إِلىٰ حَوْضِيْ اْلآنَ

“Dan demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar telah melihat telagaku sekarang”.
[H.R Al Bukhori dan Muslim  dari Uqbah bin ‘Amir]

Beliau saw juga telah menetapkan di dalam sabdanya:

وَمِنْبَرِيْ عَلىٰ حَوْضِيْ

“Dan mimbarku berada di atas telagaku”.
[H.R Al Bukhori  dan Muslim  dari Abu Hurairah ]

Sabda beliau  ini mengandung kemungkinan bahwa mimbar beliau tersebut benar-benar berada di atas telaga hanya saja kita tidak melihatnya karena hal ini merupakan perkara gaib; atau kemungkinan mimbar beliau tersebut kelak pada Hari Kiamat akan diletakkan di atas telaga beliau

Kedua: Pada Telaga Rasulullah saw mengalir dua pancuran dari sungai Al Kautsar yang Allah  anugerahkan kepada Nabi
Imam Muslim  meriwayatkan dari Shohabat Tsauban  bahwasanya Nabi  ditanya tentang air telaga beliau saw, maka beliau saw bersabda:

أَشَدُّ بَيَضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَ أَحْلىٰ مِنَ الْعَسَلِ، يَغُتُّ فِيْهِ مِيْزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنَ الْجَنَّةِ، أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ وَاْلآخِرُ مِنْ وَرِقٍ

“…(Airnya) lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu, mengalir padanya dua pancuran dari surga, salah satu pancuran tersebut dari emas dan yang lainnya dari perak”.

      Beliau saw juga bersabda:

وَأَعْطَانِي اْلكَوْثَرَ وَهُوَ نَهْرٌ فِيْ اْلجَنَّةِ يَسِيْلُ فِيْ حَوْضٍ


Allah ta’ala memberiku Al Kautsar, dan Al Kautsar ini adalah sungai di surga yang mengalir ke telaga”.
[Hadits hasan riwayat Imam Ahmad ]

Ketiga: Waktu (keberadaan) Telaga tersebut adalah sebelum melewati Ash Shirot (jembatan yang dibentangkan di atas punggung Jahannam)
Karena kedudukannya menunjukkan demikian, dimana manusia membutuhkan minum di Padang Mahsyar sebelum melewati Ash Shirot. Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy  mengatakan: “Dan jelaslah bahwasanya Telaga adalah sebelum Ash Shirot”.

Keempat: Yang akan mendatangi telaga Nabi saw hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah  dan Rasulnya , yang mengikuti syari’atnya.

Adapun orang-orang yang enggan dan sombong dari mengikuti syari’at, maka mereka akan tersingkir dari telaga tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Al Bukhori  dan Muslim  dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idiy , ia berkata: Saya mendengar Nabi saw bersabda:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى اْلحَوْضِ، مَنْ وَرَدَ شَرِبَ، وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأ ْ أَبَدًا. وَلَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُوْنِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya aku adalah yang terdepan diantara kalian mendatangi telaga. Barangsiapa yang mendatanginya maka dia akan minum dari air telaga tersebut dan barangsiapa yang meminumnya maka dia tidak akan haus selama-lamanya. Dan sungguh akan datang kepadaku beberapa kaum, aku mengenali mereka dan merekapun mengenal dirku, kemudian antara aku dan mereka dihalangi”.


Dan Abu Sa’id Al Khudriy  manambahkan bahwasanya Nabi berkata:

إِنَّهُمْ مِنِّيْ، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِيْ مَاعَمِلُوْا بَعْدَكَ. فَأَقُوْلُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِيْ

“Sesungguhnya mereka itu dari golonganku! Maka dikatakan: “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sepeninggalmu. Maka aku (Nabi ) berkata: “Sungguh jauh, sungguh jauh bagi orang-orang yang mengadakan perubahan (dalam urusan agama) sepeninggalku”.

Kelima: Air Telaga tersebut lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu dan lebih harum daripada bau misik (minyak kasturi)
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Al Bukhori  dan Muslim  dari Abdullah bin ‘Amr , bahwa Rasulullah saw bersabda:

حَوْضِيْ مَسِيْرَةُ شَهْرٍ، مَا ؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيْحُهُ أَطْيَبُ مِنَ اْلمِسْكِ وَكِيْزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَ فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا

“Telagaku sepanjang perjalanan satu bulan, airnya lebih putih daripada susu, baunya lebih harum daripada misik, kendi-kendinya seperti bintang di langit. Barangsiapa yang minum darinya, niscaya dia tidak akan haus selamanya”.

Keenam: Kendi-kendi Telaga Rasulullah  seperti bintang-bintang di langit
Hal ini sebagaimana tersebut dalam sebagian lafadz hadits:

...وَكِيْزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ...

“...Dan kendi-kendinya seperti bintang di langit...”
[H.R. Al Bukhori  dan Muslim ]

Lafadz hadits ini adalah lafadz yang syumul (mencakup beberapa makna), sebab lafadz “seperti bintang-bintang di langit”, bisa bermakna “Seperti jumlah bintang-bintang di langit”, bisa pula bermakna “Seperti sifat bintang-bintang di langit”. Jadi kendi-kendi Telaga Rasulullah saw seperti jumlah dan kilauan bintang-bintang di langit.

Ketujuh: Barangsiapa yang minum air Telaga Rasulullah  sekali minum, maka dia tidak akan haus selama-lamanya, bahkan ketika di atas Ash Shirot dan setelah melewati Ash Shirot.

Ini merupakan sifat hikmah dari Allah , dimana orang-orang yang meminum dari syari’at Allah  ketika di dunia maka dia tidak akan merugi selamanya.

Kedelapan: Panjang dan lebar telaga Rasulullah  adalah sejauh perjalanan satu bulan

            Hal ini disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash  riwayat Imam Muslim  bahwa Rasulullah  bersabda:

حَوْضِيْ مَسِيْرَةُ شَهْرٍ وَزَوَايَاهُ سَوَاءُ...

“Telagaku sepanjang perjalanan satu bulan, dan sudut-sudutnya sama...”.

            Para ulama berkata: Maknanya adalah bahwa panjangnya sama dengan lebarnya.



 -------------------------------------------------------


Ash Shirot


Ash Shirot secara bahasa berarti “jalan”. Sedang menurut pengertian syari’at Islam Ash Shirot adalah “jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam yang akan dilewati oleh manusia menuju surga.”

 Keadaan Ash Shirot
Nabi  pernah ditanya tentang Ash Shirot, maka beliau  menjawab: “Ash Shirot itu licin dan menggelincirkan. Padanya terdapat besi-besi bercakar, kait-kait besi dan tumbuhan yang terbentang yang memiliki duri-duri serta kait-kait besi yang mencelakakan yang disebut As-Sa’daan”.
[H.R. Muslim ]

Dan di dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori  disebutkan:

“Dan pada Ash Shirot itu terdapat kait-kait besi seperti duri-duri As-Sa’daan, akan tetapi tidak ada yang mengetahui besarnya kecuali Allah . Manusia disambar sesuai dengan amal-amal mereka”.

Sebagian ulama berkata: Ash Shirot adalah jembatan yang sangat tipis sebagaimana tergambar dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudriy  yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
أَنَّهُ أَدَقُّ مِنَ الشَّعْرِ وَأَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ

“Bahwasanya ia (Ash Shirot) lebih tipis daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang”.

Atas dasar hadits di atas, timbul pertanyaan: Bagaimana mungkin orang bisa lewat di atas jalan yang demikian keadaannya? Maka jawabannya adalah: Sesungguhnya perkara-perkara akhirat tidak bisa diqiyaskan (disamakan) dengan perkara-perkara dunia, dan Allah  Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 Orang-orang yang lewat di atas Ash Shirot

Adapun orang yang akan melewati Ash Shirot adalah khusus orang-orang yang beriman, sebab orang-orang kafir telah masuk ke dalam neraka sebelum melewati Ash Shirot.

Orang-orang yang beriman akan melewati Ash Shirot sesuai dengan kadar amal-amal mereka. Maka diantara mereka ada yang lewat seperti kecepatan kedipan mata serta ada yang lewat seperti kilat, dan kedipan mata lebih cepat daripada kilat. Diantara mereka ada yang lewat seperti kecepatan angin, dan tidak diragukan lagi bahwasanya angin berjalan dengan cepat bahkan kadang-kadang mencapai kecepatan 140 mil per jam. Diantara mereka ada yang lewat seperti kecepatan kuda pacuan serta ada yang lewat seperti kecepatan unta tunggangan, dan pada umumnya kuda pacuan lebih cepat daripada unta tunggangan. Diantara mereka ada yang lewat dengan berlari dan ada yang berjalan serta ada yang merangkak, yakni berjalan dengan menyeret pantatnya, dan semuanya menginginkan agar bisa melewati  Ash Shirot.

Keadaan orang-orang yang melewati Ash Shirot ini sebagaimana termaktub dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudriy  yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhori  dan Al Imam Muslim .

Berjalannya manusia di atas Ash Shirot bukan semata-mata berdasarkan pilihan mereka. Seandainya semata-mata berdasarkan pilihan mereka niscaya mereka akan menyukai untuk melewati Ash Shirot dengan cepat, akan tetapi cepatnya perjalanan tersebut sesuai dengan cepatnya mereka menerima syari’at ketika di dunia ini, barangsiapa yang cepat menerima syari’at yang dibawa oleh para Rasul, maka dia akan cepat melewati Ash Shirot; dan jika lambat maka akan lambat pula dia melewati Ash Shirot sebagai balasan yang pantas baginya. Dan “Jenis balasan adalah sesuai dengan jenis amal”.

------------------------------------------------------

Al Qonthoroh

Al Qonthoroh bermakna jembatan, namun ia adalah jembatan yang berukuran kecil yang berada di antara surga dan neraka.

Para ulama berbeda pendapat tentang Al Qonthoroh ini, apakah ia adalah ujung Ashirot (jembatan yang dibentangkan di atas Jahannam) atau ia adalah jembatan tersendiri? Dan yang benar adalah kita mengatakan [اَللهُ أَعْلَمُ] (hanya Allah  yang mengetahui), dan kita tidak mengetahui keadaannya, akan tetapi kita mengetahui bahwasanya manusia akan berhenti di atasnya.

Di Al Qonthoroh ini sebagian manusia akan diqishos oleh sebagian yang lain. Namun qishos ini bukanlah qishos yang pertama yang terjadi di Padang Mahsyar. Qishos ini adalah qishos yang lebih khusus, yakni untuk menghilangkan rasa dendam, kedengkian dan permusuhan dari hati-hati manusia agar hati mereka suci dan bersih, hingga mereka masuk ke dalam surga dalam keadaan tidak ada lagi di hati mereka rasa dendam, sebagaimana firman Allah :

“Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”. [Q.S Al-Hijr: 47]

Setelah hati mereka dibersihkan dan dijernihkan, maka mereka diizinkan untuk masuk ke dalam surga, namun mereka tidak mendapati pintu surga itu terbuka, maka Nabi  memohon syafa’at kepada Allah  agar bisa membuka pintu surga bagi mereka. Nabi  bersabda:

أَناَ أَوَّلُ شَفِيْعٌ فِيْ الْجَنَّةِ

“Aku adalah orang yang pertama kali memohon syafa’at di surga”. [H.R Imam Muslimmeriwayatkan dari Anas bin Malik]

Dalam lafadz lain disebutkan:


أنا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ اْلجَنَّةِ


Aku adalah yang pertama mengetuk pintu surga”.

Dan umat pertama yang akan memasuki surga adalah umat Muhammad . Imam Muslim  meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda:

نَحْنُ اْلآخِرُونَ اْلأَوَّلُونَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ، وَنَحْنُ أَوَّلُ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ

“Kami adalah umat yang terakhir yang pertama pada hari kiamat, dan kami adalah yang pertama memasuki surga”.

Dan ini berlaku pada semua kejadian/tempat-tempat pada Hari Kiamat.

Maroji’ (Kitab rujukan):

-      Syarah Aqidah Wasithiyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin
-      Syarah Lum’atul I’tiqod, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin
-      Syarah Shohih Muslim , Imam Muhyiddin An-Nawawi

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ